Tampilkan postingan dengan label Tips Makanan Ringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Makanan Ringan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Februari 2012

Tips Sehat Makan Mie Tiap Hari :)

share


Mi instan dikatakan tinggi lemak karena dalam proses produksinya melalui tahap penggorengan yang melibatkan banyak minyak. Sedangkan minyak untuk menggoreng itu sendiri sarat lemak jenuh yang memiliki efek buruk bagi kesehatan bila dikonsumsi terlampau banyak.  Saya sendiri adalah penggemar berat mi dan bakso, hampir setiap hari memakannya.
Memang sulit untuk menghentikan hobi makan mi, dan saya rasa pembaca juga sependapat dengan saya.
"Mi instan dikatakan tinggi lemak dikarenakan dalam proses produksinya melalui tahap penggorengan yang melibatkan banyak minyak. Sedangkan minyak untuk menggoreng itu sendiri sarat lemak jenuh yang memiliki efek buruk bagi kesehatan bila dikonsumsi terlampau banyak," tutur Prof C Hanny Wijaya, seorang ahli gizi dari IPB di Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (25/1/2012).

Selasa, 22 November 2011

Keju Bisa Membuat Jantung Anda Sehat....!

share

Headline

duniabnovos.blogspot.com, Jakarta - Sebuah penelitian menyebutkan bahwa keju yang diklaim memiliki kadar lemak dan menyebabkan kolestrol tinggi ternyata baik untuk kesehatan jantung. Bagaimana bisa?

Berbeda dengan kebanyakan dokter dan ahli gizi yang menganjurkan untuk menghindari semua lemak hewani untuk memangkas tingkat kolesterol.
Para ilmuwan dari Denmark justru melaporkan bahwa keju sepertinya tak terlalu buruk terhadap kolesterol, dan mungkin tidak harus dikelompokkan dalam kategori yang sama dengan mentega.
Tingginya kolesterol dalam tubuh menjadi cikal bakal terkena risiko penyakit jantung. Untuk tetap menjaga kesehatan jantung, tak ada salahnya mulai kini Anda mengonsumsi keju.
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition menemukan bahwa orang yang makan seporsi keju setiap hari selama enam minggu memiliki tingkat kolesterol jahat (LDL) yang lebih rendah, daripada saat mereka mengonsumsi mentega sebagai pembanding.
Orang yang makan keju juga tidak mengalami kenaikan kolesterol jahat (LDL) selama masa penelitian walaupun mereka tetap makan makanan lainnya yang biasa dikonsumsi.
"Keju menurunkan kolesterol LDL ketika dibandingkan dengan kontribusi lemak yang sama pada mentega dan tidak meningkatkan kolesterol LDL saat dibandingkan dengan makanan yang biasa dikonsumsi," tulis Julie Hjerpsted dan koleganya dari University of Copenhagen.
Penelitian ini melakukan survei terhadap 50 orang. Setiap orang menjalani diet yang terkontrol dan mengonsumsi keju atau mentega setiap hari. Peneliti memberikan setiap orang seporsi mentega atau keju, yang keduanya terbuat dari susu sapi, yang setara dengan 13% konsumsi energi harian dari lemak.
Selama rentan waktu 6 minggu, setiap partisipan makan jumlah keju atau mentega yang sama, dan dipisahkan oleh masa pembersihan 14 hari di mana mereka kembali ke makanan normal mereka.
Meskipun partisipan makan lebih banyak lemak hewani daripada makanan normal mereka, partisipan yang makan keju tidak menunjukkan peningkatan kolesterol LDL. Sementara mereka yang makan mentega mengalami kenaikan rata-rata 7 persen tingkat kolesterol LDL.
Peneliti pun berspekulasi bahwa ada beberapa alasan yang menyebabkan keju memiliki dampak yang berbeda dibandingkan mentega.
Keju kaya akan kalsium yang telah terbukti meningkatkan jumlah lemak yang dikeluarkan oleh saluran pencernaan. Selain itu, besarnya jumlah protein dalam keju dan proses fermentasi keju, ternyata mempengaruhi terhadap cara cerna tubuh dibandingkan dengan mentega.

Sumber : http://gayahidup.inilah.com/read/detail/1797059/ingin-jantung-anda-sehat-makan-keju

Rabu, 22 Juni 2011

Waspada, Keripik Juga Bikin Gemuk

share


shutterstock

Kompas.com Keripik ternyata menjadi salah satu penyebab kegemukan yang wajib diwaspadai, jauh lebih besar daripada soda, permen, atau es krim. Makanan ringan ini mengandung kalori yang cukup tinggi.
"Keripik memang enak dan memiliki tekstur yang menarik. Orang juga tidak puas hanya makan satu atau dua keripik, tetapi satu kantong," kata Dr F Xavier Pi-Sunyer dari St Luke-Roosevelt Hospital Center, New York, Amerika Serikat.
Dalam riset terbaru ini disebutkan bahwa pilihan dan kebiasaan makan menjadi penyebab utama kegemukan. "Tidak ada cara mudah untuk mendapatkan berat badan ideal. Olahraga dan pengaturan pola makan wajib diperhatikan, tetapi pola makan jelas paling berpengaruh," kata Dr Frank Hu.
Tim peneliti menganalisa pola makan dan gaya hidup 120.877 orang dari tiga penelitian jangka panjang. Seluruh responden adalah petugas kesehatan dan tidak kegemukan ketika penelitian dimulai. Berat badan para responden diukur setiap empat tahun selama dua dekade. Mereka juga mengisi kuesioner seputar pola makan. Secara umum para partisipan mengalami kenaikan berat badan 7,7 kilogram (kg) dalam 20 tahun.
Keripik kentang diketahui menjadi penyebab kegemukan. Setiap saji (15 keripik) mengandung 160 kalori dan akan menyebabkan penambahan berat badan 0,7 kg dalam empat tahun. Lebih besar jika dibandingkan dengan makanan manis dan dessert yang menyebabkan penambahan sekitar 0,4 kg.
Dari kelompok kentang, kentang goreng (french fries) adalah yang paling buruk dampaknya bagi pinggang dibandingkan dengan kentang rebus atau panggang. Setiap satu saji kentang goreng mengandung 500-600 kalori.
Sementara itu, kebiasaan minum soda akan menyebabkan peningkatan berat badan 0,4 kg setiap empat tahun. Selain pola makan, penyebab kegemukan lainnya adalah gaya hidup pasif, seperti terlalu lama duduk di depan televisi, minum alkohol, serta kurang tidur.
Para ahli menjelaskan, apa yang kita makan dan kebiasaan kita dalam mengonsumsinya jauh lebih berpengaruh daripada olahraga dan rencana penurunan berat badan jangka panjang.
Kesimpulan tersebut dibuat berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli dari Harvard University dan dimuat dalam New England Journal of Medicine. Ini merupakan riset paling komprehensif mengenai efek makanan individu dan gaya hidup, seperti pola tidur dan kebiasaan merokok.
Kegemukan yang saat ini menjadi masalah di banyak negara menjadi masalah kesehatan yang mendapat perhatian serius. Kegemukan bukan hanya soal estetika, tetapi dipandang sebagai penyakit. Banyak orang yang berusaha mati-matian untuk menurunkan berat badannya, tetapi tidak menyadari apa yang membuat bobot mereka melonjak.

Selasa, 21 Juni 2011

Makanan Mengandung Zat Fosfat Tinggi Picu Penyakit Jantung

share

Dikutip pada situs: KOMPAS.comSelain berolahraga secara rutin dan mengurangi makanan berlemak tinggi, ada satu lagi perilaku yang patut dipertimbangkan untuk menjaga kesehatan jantung. Mulailah membatasi jenis makanan yang mengandung kadar fosfat tinggi. Sebuah penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal Arteriosclerosis, Thrombosis, and Vascular Biology mengindikasikan, makanan yang mengandung zat fosfat tinggi dapat memicu risiko penyakit jantung.

Bila Anda gemar menyantap makanan-makanan, seperti biskuit, kue, gula-gula, sejumlah produk olahan susu, minuman energi, dan daging jeroan, sebaiknya waspada. Bisa jadi risiko Anda mengidap penyakit jantung meningkat.

Menurut riset para ahli di Universitas Sheffield, Inggris, zat fosfat yang tinggi dalam makanan dapat memicu aterosklerosis atau pengerasan pembuluh darah. Penelitian di laboratorium menggunakan tiga kelompok tikus menunjukkan bahwa diet tinggi fosfat dapat menimbulkan risiko pembengkakan dan penyumbatan pada pembuluh darah hingga 40 persen.

Apa sebenarnya fosfat? Ini adalah zat kimia yang sering digunakan sebagai bahan tambahan pangan. Zat kimia ini membuat makanan yang dipanggang menjadi ringan, dan membantu daging tetap lembab dan lembut, dan membuat bentuk keju menjadi bagus, dan ada beragam manfaat lain.

Anda pun sebenarnya tak perlu terlalu takut atau benar-benar menghindari makanan berfosfat. Pasalnya, tubuh tetap memerlukan zat kimia ini untuk membangun dan memperbaiki gigi dan tulang yang rusak. Tetapi, para ahli nutrisi sejak lama sudah mencurigai efek fosfat, dan kini para ilmuwan Inggris membenarkan bahwa terlalu banyak fosfat dalam diet bisa membuat Anda terkena sakit jantung.

Menurut para ilmuwan, ketika fosfat terdeteksi dalam aliran darah, makanan tubuh Anda akan melepaskan hormon tertentu yang menurunkan kadar zat fosfat. Penelitian menunjukkan bahwa tingginya kadar hormon yang menurunkan fosfat ini berkaitan dengan penyakit jantung dan pembuluh darah.

Peneliti sendiri menyatakan belum dapat memastikan apakah hormon penurun fosfat atau zat fosfat sendiri yang menyebabkan penyakit jantung. Tetapi, apa pun itu, mengurangi asupan makanan yang mengandung fosfat dalam diet akan menjadi langkah bijaksana untuk memelihara kesehatan jantung.

Untuk mengurangi kadar fosfat dalam diet, hindari konsumsi berlebihan makanan olahan dan makanan dalam kemasan. Selain itu, batasi pula konsumsi daging-daging organ, seperti jeroan, ginjal, atau hati.

Template by:

Free Blog Templates